Saya sudah menduga tangis saya akan pecah sehingga saya sudah mempersiapkan tissue sebelum berangkat. Sebenarnya saya tidak terlalu sering ke bioskop kecuali filmnya benar benar sudah saya tunggu atau kalau bukan karena saya sudah membaca bukunya telebih dahulu. Dan alasan yang kedua telah membawa saya berangkat menonton tengah malam karena kehabisan tiket dijam jam sebelumnya. Ya, bukunya sudah laris sekali ditambah dengan difilmkannya buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini karya Marcella F P menjadi ajang perebutan kursi penonton dalam waktu singkat setelah film itu dirilis.
Film ini berkisah tentang keluarga yang menceritakan sosok Keluarga Narendra yang mempunyai tiga anak: Angkasa, Aurora, dan Awan. Diawali dari menyorot persaudaraan mulai dari Angkasa (Rio Dewanto) sang kakak yang memiliki tanggung jawab lebih sebagai penjaga adik adiknya. Kemudian Aurora (Sheila Dara) si anak tengah yang merasa cukup terpinggirkan setelah hadirnya Awan, dan Awan (Rachel Amanda) sendiri yang justru lelah karena terlalu dikekang oleh perhatian.
Mereka hidup bersama hingga satu persatu anak anak tumbuh dewasa. Awalnya semua permasalahan yang terjadi seperti baik baik saja. Sang ayah selama ini menutup nutupi kejadian bertahun tahun silam dengan dalih membuat keluarganya membuka lembaran baru sembari melupakannya dan menjadi lebih bahagia. Namun satu persatu trauma dan permasalahan yang telah ditutup dalam dalam kemudian memberikan klimaks yang cukup menyakitkan.
Belum genap sepuluh menit saya duduk sudah banjir air mata karena adegan begitu menyentuh luar biasa, atau sepertinya faktor relate juga sama kehidupan saya haha. Film tersebut seakan memberi kritik kepada para orangtua di dunia bahwa diskusi dengan sang anak anaknya perlu untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Relate juga kisah percintaan Awan dengan para perempuan kebanyakan yang terphp oleh Kale alias penyanyi favorit saya Ardhito Pramono.
Iya adegan yang paling saya ingat ya itu, ketika detik detik kale melakukan aksi php dikosannya yang luas sekali sampai muat piano haha kayanya kosan Jogja can’t relate atau saya yang belum nemu.
“kita itu apa sih?” tanya Awan
“kamu maunya apa?” Kale kembali melempar pertanyaan
Saya juga bakal sedih kalau jadi Awan yang sudah berharap Kale sebagai tempat pelarian dari dunia yang menyakitkan, tapi ujung ujungnya memilih jadi sekedar teman. Disitu saya sedih sekaligus heran sih, kale tidak mau pacaran tapi main sosor aja wkwk pusing melihat kelakuan fakboy jama sekarang.
Overall saya kasih rate 9/10 dengan semua acting para artisnya, cinematografinya yang enak dipandang, penyampaian ke audience yang menyenangkan ditambah soundtrack lagu Ardhito, Hindia, Kunto Aji, Sisir Tanah dan semuanya yang saya tidak hafal saya rasa perpaduan yang epic sekali mengiringi setiap pergantian situasi. Entah apa karena saya terlalu melankolis sampai filmnya sudah habis saya masih saja menangis, yang belum nonton mungkin saya sarankan persiapkan sedikit tisu:)
Waduh, saya belum nonton.
BalasHapusIntinya tentang kekeluargaan gitu, ya.