Hari pertama menulis di April Produktif adalah hari dimana saya memutuskan menulis kembali setelah satu tahun lamanya berhenti menulis. Saya berhenti menulis banyak hal di 2019 entah itu via tumblr, blog, bahkan dibuku
harian. Tidak banyak coretan tersisa di2019 yang ternyata akhirnya meninggalkan penyesalan. Menyesal karena menjadikan sibuk sebagai alibi untuk berhenti, sekaligus menyesal karena banyak pelajaran terlewatkan yang meskipun kecil namun malah tertinggal karena tak tertuang dalam tulisan dan sekedar hanyut dalam ingatan.
Menulis di bulan April ini juga membuka pemikiran saya dari berbagai karya yang teman teman April Produktif suguhkan. Pemikiran pemikiran unik hadir menambah sudut pandang baru dari pemikiran saya yang tak seberapa. Menulis bersama membuat perjalanan lebih jauh dan terasa lebih menyenangkan dibanding sendirian. Anggap saja saya sedang menchallenge diri sendiri, kalau dulu saya menulis dengan puisi menyedihkan dengan bumbu bumbu kebaperan dan penuh sentimental, kini mencoba dengan tema yang setiap harinya bertambah menantang dengan cerita yang lebih jujur sambil kembali merefleksi diri. Karena besar pula harapan saya mengenal kembali lebih dekat terhadap diri saya, untuk sesekali mengapresiasi dan sesekali menyadari apa lagi yang harus dicari. Saya sepakat bahwasanya menulis dengan lebih jujur, harganya dimata batin jauh lebih besar dan lebih menaruh pelajaran. Meskipun saya sempat ragu menulis kembali dengan berbagai alasan, namun keberanian kecil kemudian membawa keberanian keberanian lainnya.
Menulis di bulan April ini juga membuka pemikiran saya dari berbagai karya yang teman teman April Produktif suguhkan. Pemikiran pemikiran unik hadir menambah sudut pandang baru dari pemikiran saya yang tak seberapa. Menulis bersama membuat perjalanan lebih jauh dan terasa lebih menyenangkan dibanding sendirian. Anggap saja saya sedang menchallenge diri sendiri, kalau dulu saya menulis dengan puisi menyedihkan dengan bumbu bumbu kebaperan dan penuh sentimental, kini mencoba dengan tema yang setiap harinya bertambah menantang dengan cerita yang lebih jujur sambil kembali merefleksi diri. Karena besar pula harapan saya mengenal kembali lebih dekat terhadap diri saya, untuk sesekali mengapresiasi dan sesekali menyadari apa lagi yang harus dicari. Saya sepakat bahwasanya menulis dengan lebih jujur, harganya dimata batin jauh lebih besar dan lebih menaruh pelajaran. Meskipun saya sempat ragu menulis kembali dengan berbagai alasan, namun keberanian kecil kemudian membawa keberanian keberanian lainnya.
Sedikit berbagi cerita, dulu saya tidak terbiasa menulis dengan jujur, saya hanya mau menulis cerita fiksi seperti cerpen, cerbung, puisi. Saya tidak ingin menulis terlalu banyak tentang diri saya sendiri, tapi setelah saya pikir-pikir begitu banyak pengalaman hidup yang punya hikmah dan nilai kebaikan, sayang sekali jika tidak dibagi. Setelah mencoba dibagi ke publik ternyata sangat melegakan dan alhamdulillah dapat respon positif yg membuat ingin terus bersemangat menulis. :")
BalasHapus