Barangkali kalau tidak ada corona saya masih berada di Jogja, hari masih padat terisi kegiatan perkuliahan atau mengisi proker organisasi. Sesekali mencoba mblayang dari keruwetan hidup meskipun cuma motoran tanpa tujuan dan hanya sendirian, mengobrol diperjalanan bersama tony (nama motor saya) atau jika sedang galau bisa bisa menangis sekalian.
Bermotoran sambil sambat atau malah kadang ngumpat tanpa ada yang mendengar tapi rasanya cukup melegakan dibanding curhat dengan teman. Sambil sesekali memperhatikan wajah wajah lelah para pejalan atau penjual dipinggiran, lalu menyadari bahwa beban beban mereka juga sama beratnya atau bahkan lebih dari saya. Kemudian tidak lupa sebelum pulang mampir untuk membeli makan malam dan kembali ke kosan dan kembali sendirian. Kemudian kembali menentukan pilihan untuk membaca buku, menonton drakor atau sekedar scroll scroll layar handphone. Berkali kali begitu kalau memang tidak ada janji, sampai saya bosan untuk terus bosan. Saya tidak sebetah itu tinggal di Jogja layaknya orang orang gaungkan, barangkali corona juga jawabban dari hari hari saya di Jogja yang membosankan.
Bermotoran sambil sambat atau malah kadang ngumpat tanpa ada yang mendengar tapi rasanya cukup melegakan dibanding curhat dengan teman. Sambil sesekali memperhatikan wajah wajah lelah para pejalan atau penjual dipinggiran, lalu menyadari bahwa beban beban mereka juga sama beratnya atau bahkan lebih dari saya. Kemudian tidak lupa sebelum pulang mampir untuk membeli makan malam dan kembali ke kosan dan kembali sendirian. Kemudian kembali menentukan pilihan untuk membaca buku, menonton drakor atau sekedar scroll scroll layar handphone. Berkali kali begitu kalau memang tidak ada janji, sampai saya bosan untuk terus bosan. Saya tidak sebetah itu tinggal di Jogja layaknya orang orang gaungkan, barangkali corona juga jawabban dari hari hari saya di Jogja yang membosankan.
Komentar
Posting Komentar