Barangkali kalau ada perebutan juara siapa yang paling pelupa, mungkin saya bisa saja menjadi pemenangnya. Pasalnya saya sering sekali lupa menaruh barang pribadi seperti kunci, handphone, kuncir atau lain sebagainya yang pada akhirnya jadi hilang entah kemana.
Perihal pelupa, bisa jadi saya pemenangnya. Tapi perihal melupa justru saya kalah telak, karena apa yang ingin saya lupakan adalah hal yang sudah lama terpatri dalam ingatan. Ingin sekali melupakan, karena terlalu menyakitkan bila dikenang dalam dalam dan terlalu memilukan bila harus tetap dibiarkan tertata rapi dalam ingatan. Ya Allah, paling tidak kalau saya tidak bisa melupakannya perlahan, saya berharap bisa segera mengikhlaslan. Saya tidak mau berlarut larut sedih karena sibuk dengan masa lalu yang tak pernah sekalipun saya inginkan. Saya tidak mau pikiran tentangnya masih menjadi benalu yang mengganggu setiap hariku.
Saya mencoba melupakan dari membuang foto kebersamaan, ketika untuk pertama kalinya ia meminta saya berfoto bersama dihari kelulusan. Setelah itu,nama kontak juga tak akan saya biarkan, justru sekalian saja saya hapuskan agar saya merasa lebih aman. Begitu pula lembar diary yang pernah saya tulis tentangnya, saya buang secara cuma cuma.
Sudah semua, secara fisik semua tentangnya telah raib. Hanya tinggal sebagaimana diri saya bekerja dengan baik untuk terus mencari cara melupakannya secara utuh.Meskipun berbagai kesibukan telah saya lakuan, dan belum ada satupun yang benar benar membuat saya melupakan. Esoknya, saya memutuskan jalan jalan sejenak bertemu dengan beberapa sahabat karib saya dari kecil. Hitung hitung melepaskan penat kepala yang sedari kemarin menetap. Kita kembali membahas cerita cerita lucu sebelum lulus sekolah, curhat ditaburi guyonan garing tapi tetap mengasyikan, makan beberapa snack sambil lagi lagi membahas ngalor ngidul tak jelas, sambat satu persatu tentang kesedihan dan hari itu berakhir dengan keadaan saya benar benar lelah tertawa. Pokonya saya senang sekali hari itu, sampai saya lupa kalau saya lagi pura pura bahagia. Semua yang pura pura memang capek, tapi saya senang kalau akhirnya kepura puraan saya justru menjadi betulan. Memang benar beberapa hal nggak perlu dipusingin, nanti juga ada jalannya dan butuh waktu buat saya.
Masih sama seperti lembar sebelumnya, ini masih bercerita tentang kisah teman saya yang ditinggal seseorang spesialnya:)
Semangat ya lala! :)
BalasHapusKata seseorang, semakin ingin melupakan, semakin kita akan mengingatnya. Bila memang belum waktunya lupa biarlah saja, sampai suatu saat kita tidak sadar kalau kita sudah berhasil lupa. :)
sedih ya
BalasHapusawalnya berpura-pura dan lupa kalo sedang berpura-pura, lanjutkan anak muda
BalasHapusmelupakan memang susah, karena kalau sengaja melupakan malah jadi ingat. intinya jangan dipikrin terus
BalasHapus