Smartphone kini menjadi teman sekaligus gandengan tangan manusia kebanyakan dalam 24/7 tanpa henti. Serba memudahkan namun sesekali melenakan dan membuat diri jadi bermalas malasan. “Tidak mau bermalas malasan gara gara asyik sosmed-an” dikala mendekati ujian ujian sekolah saat madrasah, kalimat itu yang terus membuat saya mulai membatasi diri dengan semua hal melenakan didalam smartphone ini. Saya kemudian memutuskan untuk uninstall instagram selama ujian, meskipun twitter tetap jalan tapi setidaknya tidak memakan durasi yang lama untuk menjeda waktu belajar saya. Ternyata setelah percobaan itu berhasil, rasanya memuaskan sekali karena bisa benar benar fokus belajar tanpa kecolongan scrolling instagram dimasa ujian.
Berlanjut ketika awal perkuliahan yang terasa membosankan, saya memilih untuk mengikuti beberapa kegiatan diluar jam perkuliahan yang pada akhirnya membuat saya harus pulang kosan dengan larut malam. Disuatu ketika saya lagi capek capeknya sebelum tidur menyempatkan scrolling instagram, tiba tiba saya malah jadi sedih. Bukan karena melihat mas mantan sudah punya pacar, tapi melihat instastory orang orang yang sedang memperlihatkan kesempurnaan hidup mereka kok saya jadi insecure. Saya rasa semakin luas orang orang yang saya ikuti dan semakin kesini, instagram jadi salah satu media validasi dan sudah tidak terasa asik lagi. Bukan masalah “kok nggak berusaha berpikir positif aja?”, saya juga tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini. Barangkali justru kacamata saya yang terlalu subjektif karena kendisi saya sedang lelah bahkan belum betah di Jogja juga kala itu, toh saya tidak tahu pasti bagaimana kehidupan mereka yang sebenarnya. Tetapi ya kira kira memang begitulah yang saya rasakan hingga saya memutuskan untuk tidak lagi memberikan waktu senggang saya untuk sering sering berkunjung ke instagram. Saya hanya membatasi agar setidaknya saya merasa aman tanpa ada insecurity maupun menjadi toxic tersendiri tanpa saya harus merasa terpengaruh untuk mengikuti standar apapun layaknya yang orang orang tunjukkan pada instastory mereka.
Akhirnya "less scrolling" menjadi salah satu list resolusi saya ditahun ini, harapannya agar lebih banyak hal produktif yang saya lakukan diluar dunia maya. Semoga sosial media justru menjadi ladang kebaikan, tempat kita senantiasa spread love and positivity:)
Semangat, lala! Menurutku less scrolling ini salah satu langkah berani dan bijak untuk diterapkan meski kadang emang berat. Terima kasih sharing-nya! :)
BalasHapusKehidupan di dunia nyata memang lebih nyata daripada kehidupan di dunia Maya yang tidak selamanya mempresentasikan apa yang ada di dalam dunia nyata. Oh ya.. semangat untuk hidup yang lebih baik...
BalasHapussaya sering scrolling di medsos, karena saya gabut. mantab!
BalasHapus